Home IAI-Tribakti Dosen IAI-Tribakti Kediri berpatisipasi dalam AnCOMs

Dosen IAI-Tribakti Kediri berpatisipasi dalam AnCOMs

8
0
SHARE

Dosen Tribakti dalam Ancoms Kopertais IV Surabaya

Surabaya, 23 November 2019 Annual conference for muslim scholars ketiga dengan mengambil tema The Creation of Muslim Polity in Indonesia Challenges and Opportunities. Acara tersebut dikuti 108 pemakalah dari 170 artikel yang diseleksi. Dosen IAI Tribakti Kediri yang lolos seleksi dalam Ancoms sebanyak tiga orang, yaitu A. Jauhar Fuad, Zaenal Arifin, Tenika.

Prof. Masdar dalam sambutannya menyatakan “Ancoms bukan sekedar kegiatan rutin. Tetapi ancoms merupakan kewajiban akademik”.

Kopertais membawahi 193 PTKIS, 160 PTKIS berapa di Jawag Timur selebihnya di Bali, NTB dan NTT. Ancoms menjadi agenda PTKIS untuk mempublikasikan karya tulis ilmiah hasil penelitian dosen.

Ancoms diproyeksikan dapat dipublikasikan dengan indks publikasi Scopus. Koperasi IV besar tidak hanya jumlah tetapi juga mampu menghasilkan karya yang dapat dijadikan rujukan perguruan tinggi lain.

Suwendi dalam sambutannya mengatakan keberhasilan PTKIS memiliki peran dalam membangun relasi antara Islam dan pengetahuan, berikutnya membangun relasi antara Islam dan negara. Keilmuan pada perguruan Islam beroretasi pada pengembangan ilmu-ilmu keislaman, yang teroretasikan pada Ma’had Aly dan pondok pesantren. Disisi lain perguruan tinggi umum mengembangkan keilmuan umum. Peran PTKI memiliki peran dalam mengembangkan peran integrasi keilmuan. Peran ini tidak dimiliki oleh perguruan tinggi lain diluar kementerian agama. Ini peran PTKI dalam pengembangan relasi Islam dengan pengetahuan.

Kedua relasi Islam dengan kekuasaan, akan menghasilkan tiga konsep; integralistik, sekularisme, dan subtansialisme. Integralistik menyatu antara kuasa agama dan negara menjadi satu, dalam dunia hanya beberapa negara yang menggunakan sistem itu, Arab Saudi dengan ideologi Islam Wahabinya, Iran dengan ideologi Islam Syiahnya. Sekulerisme adanya pemisahan antara agama dan negara, dua hal yang dibedakan dalam ruang publik dan politik. Indonesia mengambil posisi subtansialisme agama dan negara memiliki peran yang saling melengkapi.

Dengan Pancasila sebagai dasar negara mengayomi keragaman dalam masalah agama, suku, bangsa. Bersatu dalam keberbedaan cinta negara, dengan mempertahankan dan membangun negeri.