Home Ahwal Al-Syahsiyah Stadium General Prodi Ahwal Syakhsyiyah Bersama Dr. Sulaiman Hasan Sulaiman dari Refak...

Stadium General Prodi Ahwal Syakhsyiyah Bersama Dr. Sulaiman Hasan Sulaiman dari Refak University Libya

90
0
SHARE

Salah satu upaya prodi Ahwal Al Syakhsiyyah Fakultas Syari’ah dalam meningkatkan kualitas keilmuan dan wawasan ke Islaman mahasiswa adalah mengadakan Stadium General. Kegiatan tersebut diadakan pada hari Kamis, 12 September 2019 bertempat di Aula Makhrus Ali Institut Agama Islam Tribakti Kediri, pada Stadium General kali ini menghadirkan Dr. Sulaiman Hasan Sulaiman dari Universitas Refak Libya. Kegiatan tersebut selain sebagai penunjang pembelajaran juga berfungsi sebagai upaya Institut Agama Islam Tribakti Kediri dalam menjalin hubungan akademis dengan Perguruan Tinggi Luar Negeri.

Stadium general tersebut di ikuti seluruh mahasiswa/i prodi  Ahwal Al Syakhsiyyah dan juga beberapa mahasiswa dari fakultas Dakwah dan Tarbiyah. Suasana kuliah umum ini menjadi lebih menarik karena nara sumber menyampaikan materi dengan menggunakan bahasa Arab sehingga acara berlangsung dalam suasana akademik yang penuh khidmat.  Adapun tema dalam Stadium General kali ini adalah  Perbudakan Masa Lalu Hingga Kini. Bertindak sebagai moderator sekaligus penerjemah pada acara ini adalah Ka Prodi Ahwal Syakhsyiah H. Abbas Sofwan MF, LL.M.

Statement Pembuka (Opening Statement) yang disampaikan oleh pemateri sangat menarik, karena pemateri menyatakan bahwa Kajian ke-Islaman (Islamic Studies) merupakan implementasi dari misi Rasalullah SAW yang membawa cahaya kebenaran bagi dunia dan solusi bagi segala problematikan dari interaksi sesama manusia. Dalam sejarah, perbudakan telah terjadi jauh sebelum Islam datang, tetapi dalam realitanya dunia telah menggunakan logika terbalik yang seakan-akan problem tersebut muncul dari Islam.

Menurut Dr. Sulaiman Hasan Sulaiman, budak adalah seseorang yang di hapuskan segala haknya beserta kehormatannya karena di ambil alih kewenangan sepenuhnya oleh tuan pemilik budak tersebut. Dalam lintas sejarah perbudakan terjadi karena beberapa faktor:

Pertama, Perang Dan Ekspansi Wilayah, hal tersebut berdasarkan  sifat imperatif manusia yang ingin menguasai  sehingga menindas satu sama lain, kemudian menjadikan yang lemah di antara mereka menjadi budak .

Kedua, Faktor Kemiskinan, dalam masyarakat primitif sebelumnya perbudakan muncul berdasarkan cara pandang kepemilikan pribadi yang melahirkan stratifikasi dalam masyarakat sehingga terciptalah komoditi perdagangan manusia.

Ketiga, Hutang, berhutang adalah transaksi sosial yang tidak bisa dilepaskan dalan interaksi manusia seumur hidup, konsekuensi ketidak sanggupan dalam membayar hutang tersebut membuat seseorang melakukan segala hal agar  dapat melunasi hutang-hutannya sehingga orang tersebut mau dijadikan budak oleh pemberi hutang.

Keempat, Kriminalitas, sistem masyarakat tribal (kesukuan) merupakan bentuk sistem sosial pada masa dahulu. Norma norma kesukuan meupakan hal yang fundamental yang harus di pegang setiap anggotanya, dalam hal ini setiap anggota yang melanggar harus patuh terhadap keputusan atau hukuman dari kepala suku, dan putusan yang paling berat adalah di usir dari anggotanya sehingga anggota suku yang di usir tersebut menjadi gelandangan dan masuk ke anggota suku lain dan menempati strata paling rendah yakni menjadi seorang budak.

Kelima, Penculikan, Pada zaman dahulu sifat primitif  manusia telah menuntun manusia untuk menguasai dan memiliki segala sesuatu termasuk kepemilikan dan hak seseorang, yang membuat manusia itu sendiri membajak kabilah lain dan menculik anggota-anggota suku untuk di jadikan seorang budak. Di lanjutkan pada waktu revolusy industri orang-orang Belgia memeperlakukan penduduk Afrika sebagai bahan impor. Dan bahkan dalam skala perkembangnya budak yang di impor dari Afrika menempati posisi pasar budak terbesar di dunia, walaupun misi tersebut secara tekstual sudah di hapuskan pada Deklarasi PBB tentang Hak Asasi Manusia UN-UDHR (Universal Declaration of Human Right) pada tahun 1948, tetapi perbudakan masih terus terjadi dalam kemasan yang berbeda sampai sekarang.

Setelah usai acara tersebut, para jajaran Rektorat dan Pimpinan Institut Agama Islam Tribakti Kediri berkesempatan untuk menerima piagam kehormatan (Cerificate of Appreciation) dari Universitar Refak Libya. Piagam tersebut diserahkan langsung oleh Dr. Sulaiman Hasan Sulaiman kepada Kyai Reza Ahmad Zahid, MA dan disaksikan oleh Dr. Abu Bakar al-Shorary selaku Delegasi Antarbangsa dari Universitas Negeri Al-Zaituna Libya. (Abbas Sofwan)