Home Berita Pembinaan Pentashihan Mushaf al Qur’an: Kerjasama Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ)...

Pembinaan Pentashihan Mushaf al Qur’an: Kerjasama Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Badan Litbang Dan Diklat Kementerian Agama dengan Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri

240
0
SHARE
Pembinaan Mushaf al Qur'an

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Badan Litbang Dan Diklat Kementerian Agama menyelenggarakan Pembinaan Pentashihan Mushaf al Qur’an pada Dosen, pengasuh pondok pesantren, Mahasiswa Tahfid Qur’an, Santri Tahfid Qur’an (27 Agustus 2019) di Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo Kediri.

Narasumber dalam kegiatan tersebut Dr. H. Muchlis Muhammad Hanafi, MA (kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ)), Kyai. Mahfud, M.Pd.I (Pengasuh Pondok Tahfid Qur’an dan Dosen IAI-Tribakti Lirboyo Kediri),  Deni Hudaeny Ahamad Arifin, Lc., M.A (kepala Bidang Pentashih) dan Fahrur Rozi, Lc. M.A dengan Moderato Dr. A. Jauhar Fuad, M.Pd.

Kegiatan ini digelar dalam rangka mengenalkan profil Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, sebagai satu-satunya lembaga di Kementerian Agama yang bertugas menjaga kesahihan mushaf Al-Qur’an yang beredar di Indonesia.

Dalam sambutannya Rektor IAI Tribakti Lirboyo Kediri KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, merasa bersyukur dan menyampaikan terima kasih kepada Lajnah karena telah memilih IAIT Tribakti Lirboyo Kediri sebagai tempat diselengarakannya acara ini. Beliau menjelaskan sejarah panjang tentang pengupulan mushaf al Qur’an pada zaman Khalifah Abubakar Sidiq hingga Ustman bin Affan yang dikenal dengan istilah Ros Ustmani. Al Qur’an pada masa itu tidak ada harakat dan titiknya, para sahabat melakukan bidah yang tidak dilakukan oleh Nabi sebelumnya, penyempurnaan tulisan dalam mushaf al Qur’an dengan dengan penambahan titik dan harakat dilakukan masa berikutnya. Ia menegaskan para sahabat melakukan bidah, namun melakukan bidah yang baik, jika umat Islam tidak melakukan bidah niscaya umat Islam tidak akan pernah maju.

Sambutan atas nama panitia pembinaan pentashihan disampaikan oleh tim dari Lajnah. Kepala Bidang Pentashihan, Deni Hudaeny AA menyampaikan materi terkait profil LPMQ. Terkait profil LPMQ, Deni Hudaeny menjelaskan bahwa Lajnah merupakan satu-satunya lembaga yang hanya ada di Kementerian Agama Pusat, tidak ada di Kanwil Propinsi, maupun Kankemenag Kabupaten/Kota. Salah satu tugasnya juga spesial, yaitu menjaga kesahihan mushaf Al-Qur’an yang diterbitkan di Indonesia. Para pegawainya juga mempunyai kualifikasi khusus, selain lulusan Perguruan Tinggi Islam, juga harus memiliki ijazah tahfiz Al-Qur’an.

Kepala Lajnah Dr. H. Muchlis Muhammad Hanafi, MA  menegaskan, Pemerintah dan umat Islam Indonesia menaruh perhatian yang besar terhadap upaya pemeliharaan Al-Qur’an melalui berbagai usaha, antara lain melalui pembentukan Lajnah Pentashihan Mushaf AlQur’an, tim penerjemah Al-Qur’an dan penulisan tafsirnya, lembaga pendidikan dan pengajaran Al-Qur’an, dan penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an.

Sebagai wujud perhatian pemerintah untuk menjamin kesucian teks Al-Qur’an dari berbagai kesalahan dan kekurangan dalam penulisan Al-Qur’an tersebut, pada tahun 1957 dibentuk suatu lembaga kepanitiaan yang bertugas mentashih (memeriksa/mengoreksi) setiap mushaf Al-Qur’an yang akan dicetak dan diedarkan kepada masyarakat Indonesia. Lembaga tersebut diberi nama Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an. Namun keberadaan lembaga ini tidak muncul dalam struktur tersendiri, dan hanya merupakan semacam panitia adhoc. Lembaga tersebut menjadi bagian dari Puslitbang Lektur Keagamaan, bahkan dalam PMA no. 3 tahun 2006 tentang organisasi dan Tata Kerja Departemen Agama nomenklatur Lajnah tidak disebut sama sekali, meskipun tugasnya terurai dalam tugas pokok dan fungsi (tupoksi). Padahal Lajnah mengemban tugas yang berat dan penting dengan volume dan cakupan pekerjaan yang luas, serta tanggung jawab yang besar , karena terkait dengan kajian dan pemeliharaan kitab suci Al-Qur’an.

Tugas-tugas Lajnah semakin berkembang sejalan dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan. Pada tahun 1982 keluar Peraturan Menteri Agama Nomor 1 tahun 1982, yang isinya antara lain menyebut tugas-tugas Lajnah Pentashih, yaitu (1) meneliti dan menjaga mushaf Al-Qur’an, rekaman bacaan Al-Qur’an, terjemah dan tafsir Al-Qur’an secara preventif dan represif; (2) mempelajari dan meneliti kebenaran mushaf Al-Qur’an, Al-Qur’an untuk tunanetra (Al-Qur’an Braille), bacaan Al-Qur’an dalam kaset, piringan hitam dan penemuan elektronik lainnya yang beredar di Indonesia; dan (3) Menyetop peredaran Mushaf Al-Qur’an yang belum ditashih oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an.

Sepanjang perjalanan Lajnah sejak pertama kali didirikan pada tahun 1957 telah mengalami beberapa pergantian kepemimpinan. Sebutan untuk pemimpin Lajnah hingga akhir tahun 2006 adalah Ketua Lajnah yang secara ex officio dijabat oleh Kepala Puslitbang Lektur Keagamaan. Sejak awal tahun 2007 sejalan dengan ditetapkannya Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMA) sebagai satuan kerja (satker) tersendiri.

Ta’rif (definisi) dan riwayat (sejarah penyusunannya) Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia belakangan sering di ‘benturkan’ secara tidak proporsional dengan mushaf-mushaf terbitan luar negeri. Beberapa kalangan memandang bahwa mushaf ini tidak memiliki dasar argumentasi yang memadai. Sehingga tidak memiliki hujjah yang kuat untuk diikuti dalam proses pentashihan dan penerbitan Mushaf Al-Qur’an di Indonesia. Untuk menjawab sikap skeptis di atas, berikut adalah sedikit pengantar terkait yang diharapkan dapat membuka kembali wawasan bersama tentang mushaf Al-Qur’an hasil karya ulama Al-Qur’an Nusantara melalui Mukernas Ulama Al-Qur’an dari tahun 1974-1983.

Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia  adalah “Mushaf Al-Qur’an yang dibakukan cara penulisan, harakat, tanda baca dan tanda waqaf-nya, sesuai dengan hasil yang dicapai dalam Musyawarah Kerja (Muker) Ulama Ahli Al-Qur’an yang berlangsung 9 tahun, dari tahun 1974 s/d. 1983 dan dijadikan pedoman bagi Al-Qur’an yang diterbitkan di Indonesia.”

Penggunaan Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia sebagai dasar dalam pentashihan dan penerbitan Al-Qur’an di Indonesia di sandarkan pada Keputusan Menteri Agama (KMA). No. 25/1984 tentang Penentapan Mushaf Al-Qur’an Standar dan  Instruksi Menteri Agama (IMA). No.7/1984 tentang penggunaan Mushaf Al-Qur’an Standar sebagai pedoman dalam mentashih Al-Qur’an di Indonesia.

Mushaf ini ditulis berdasarkan qira’ah (bacaan Al-Qur’an) menurut riwayat Hafs bin Sulaiman bin al-Mughirah al-Asadi al-Kufi dari gurunya, Imam Ashim bin Abi an-Najud al-Kufi at-Tabi’i dari Abu Abdirrahman Abdillah bin Habib as-Sulami dari Usman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab, semuanya bersumber dari Rasulullah SAW.

Sementara itu, Fahrur Rozi mengemukakan pentingnya mengenal Mushaf Standar Indonesia sebagai pedoman pentashihan dan penerbitan Al-Qur’an di Indonesia. Menurutnya, kebanyakan orang begitu mudah mengambil kesimpulan yang tidak tepat dan proporsional ketika melihat perbedaan antara mushaf Indonesia dengan mushaf Al-Qur’an terbitan luar negeri, semisal Mushaf Medinah terbitan Mujamma’ Malik Fahd. Perbedaan tersebut cenderung menempatkan mushaf Al-Qur’an terbitan Indonesia dianggap mengandung banyak penyimpangan, sementara Mushaf terbitan luar negeri dinilai lebih sahih.

Berangkat atas fenomena tersebut, tandas Fahrur Rozi, kegiatan Pembinaan Pentashihan pada Komunitas Al-Qur’an ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat Islam tentang permushafan, khususnya di lingkungan pesantren, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam melihat keragaman terbitan mushaf Al-Qur’an yang beredar di Indonesia