Home Berita Mengenal Nahdatul Ulama Di Papua Barat

Mengenal Nahdatul Ulama Di Papua Barat

99
0
SHARE

Rapat Pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta di Kota Sorong pada tanggal 7 – 10 Juli 2018 membawa cerita tersendiri tetang Islam di tanah Papua Barat. Islam di tanah Papua sudah masuk sejak masa kerajaan Ternate dan Tidore, setidaknya Islam sudah masuk di kepulaan Raja Ampat. Islam menjadi agama samawi pertama masuk di tanah Papua, yang dilajutkan agama Nasroni. Penduduk Papua pada mulanya berpaham animisme.

Beberapa pimpinan PTKI (Prof. Dr. H. Kaswi Ketua STAI al Hikmah Malang; Dr. Imroatul Azizah Wakil Rektor IAI Sunan Giri Bojonegoro, Dr. Zumratul Mukafa Wakil Rektor II UIN Ampel Surabaya, Drs. Khairul Anwar, M.Pd.I,  Dekan FAI UNISMA,  Drs. Zaini, M.SI Rektor IAIW Lamongan, Dr. A. Jauhar Fuad, M.Pd. wakil Rektor II IAI Tribakti Kediri) melakukan kunjungan ke beberapa tokoh NU di Kota Sorang. Kunjungan tersebut di dampingi oleh Drs. Hatono, M.M wakil ketua PC NU Kota Sorong dan H. Suparno Bendahara NU Kota Sorong.

Kunjungan ke Rois Suriah PC. NU Kota Sorong, Drs. KH. Uso. Ia tokoh yang dituakan oleh masyarakat. Kyai Uso sudah tinggal di Sorong pada tahun 1962. Ia menceritakan bahwa masa mudanya aktif dalam kegiatan Misi NU yang ada di Kramat Jakarta. Ia merasakan gemblengan langsung oleh Dr. KH. Idam Kholid untuk menjadi kader NU yang militant.

Seiring dengan program pemeritah memperkuar NKRI di tanah Irian Jaya pada masa itu dengan Trikoranya. Pemerintah gencar melaksanakan Trasmigrasi termasuk di wilayah Irian Jaya. Banyak penduduk dari Pulau Jawa yang di kirim ke Irian Jaya. Bersamaan dengan itu pemerintah juga mengirimkan pegawai negeri sipil ke Irian Jaya salah satunya adalah pemuda yang bernama Uso. Pemuda Uso pada saat itu menjadi penyuluh agama Islam.

Di samping menjalanakan tugas Negara sebagai pegawai negeri sipil, ia pun membawa misi untuk menyebarkan Islam Ahli Sunnah wal Jamaah An Nahdiyah di bumi Irian Jaya (yang sekarang menjadi Papua Barat). Di tahun akhir 60-an lah awal perjuangan NU di tanah Papua dimulai.

Kyai Uso adalah pemuda asli Bandung yang gigih, teguh, dan miliatan terhadap perjuangan NU. Logat Sunda masing terdengan ketika kami berdiskusi. Awal perjuangan NU di Papua khususnya di kota Sorong cukup berat. Umat Nasroni sudah masuk di Kota Sorong, NU harus dapat berjalan berdampingan dengan masyarakat asli Papua dan Umat.

Kyai Uso berjuang bersama dengan tokoh lain. Mereka mendirikan lembaga pendidikan formal berupa Madrasah Aliyah dalam perjalannya lembagai ini diambil oleh Kementrian Agama RI menjadi Madrasah Aliah Negeri Model Kota Sorong, yang berlokasi di JL. Basuki Rahmat No. 40 Kota Sorong.

Kyai uso juga merintis Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta (STAIS) Al-Hikmah bersama dengan Drs. H. Noer Hasjim Gandhi, seorang eks tentara sukarelawan Trikora yang ditugaskan ke Irian Barat tahun 1962 oleh Departemen Agama RI. Dengan semangat dan idealisme tinggi, serta keyakinan dan keikhlasan pengabdian ingin memajukan pendidikan dan syiar Islam bagi masyarakat muslim Papua, maka diajaklah sejumlah tokoh muslim yang ada di Kota Sorong untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita luhur tersebut. Posisi Ketua STAI pertama diserahkan dan diamanahkan kepada Drs. H. Uso.

Pada perkembanganya setelah dimusyawarahkan dengan pihak yayasan, maka disepakati pengusulan perubahan status Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta (STAIS) Al-Hikmah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri atau disingkat STAIN. Pada tahun 2006 secara resmi peralihan status STAIS Al-Hikmah menjadi STAIN. Perjuangan itu telah berhasil menyebarkan Islam yang pada akhirnya penduduk Kota Sorong 60% beragama Islam.

Selasa 10 Juli 2018 Kami melajutkan lawatan ke Kabupaten Sorong. Dalam kunjungan itu dapat bertemu dengan Rois Suriah Kabupaten Sorong. Di Kabupaten Sorong kegiatan NU lebih maju dan hampir semua lembaga dan banom sudah terbentuk. Masyoritas di Kabupaten Sorong penduduk berasal dari  Jawa, Minang dan Bugis. Ketua PC. NU Kabupaten Sorong berasal dari Mingan dan Rosi Suriah berasal dari Banyuwangi. Di Kabupaten Sorong berdiri pondok pesantren Tahfid Qur’an. Pondok pesantern persis berada di belakang kantor NU.