Home IAI-Tribakti Kuliah Umum Kyai Said Aqil: Tantangan Global Pesantren Zaman Now

Kuliah Umum Kyai Said Aqil: Tantangan Global Pesantren Zaman Now

440
0
SHARE

Kediri- Rektor Institut Agama Islam Tribakti, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, menyampaikan rasa syukurnya atas kunjungan seorang tokoh nasional, ulama, sekaligus Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siraj, tepat pada tanggal 04 Maret 2018. Kendati dalam kunjungannya sedikit terlambat, namun kuliah umum bertajuk tantangan global pesantren di era sekarang sukses digelar dengan aman dan lancar.

Mengingat Kyai Said adalah sosok penting dalam tubuh ormas Nahdhatul Ulama (NU), peserta yang hadir dalam acara tersebut tidak hanya dari kalangan kampus Tribakti saja, namun banyak juga dari kalangan wartawan, dosen maupun mahasiswa dari kampus lain sekaligus para warga NU Kediri dan sekitarnya.

Mengawali kuliah umumnya, Kyai Said mengobarkan semangat cinta agama dan cinta tanah air, Nasionalisme. “Apa yang kita punya harus kita banggakan. Jangan pernah minder menghadapi golongan lain Nahnu ashabul haq” Yang perlu kita banggakan adalah budaya, karakter, akhlak dan kepribadian kita jauh lebih baik, lebih bermartabat daripada karakter orang Arab.” Ujar alumnus Lirboyo ini.

Beberapa tahun belakangan ini banyak isu bermunculan di masyarakat yang berpotensi merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Misalnya, pada awal tahun 2017  isu agama dan ras sengaja dikobarkan dalam percaturan politik demi mengalahkan sosok Ahok di PILKADA DKI Jakarta. Tidak hanya berhenti disitu, belakangan muncul isu mengenai Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk menjatuhkan presiden terpilih, Jokowi, hingga membuatnya terus mendesak Polisi mengusut dan menangkap para penyebar isu negatif tersebut termasuk yang melontarkan ujaran kebencian dan fitnah.

Isu paling mutaakhir bahkan lebih mencekam, banyak berita hoax tentang penyerangan ulama/kyai. Polri telah menangkap kelompok Muslim Cyber Army (MCA) penyebar berita tersebut. Hasilnya diketahui bahwa berita tersebut sarat motif politik. Isu sengaja disebarkan untuk memecah belah masyarakat dan menimbulkan keresahan sehingga dapat mengurangi kepercayaan terhadap pemerintahan.

Dalam menghadapi berbagai isu diatas, bangsa Indonesia terutama umat muslim harusnya terus menanamkan rasa bangga serta percaya diri terhadap ajaran akidah dan negaranya. Negara-negara lain seperti Arab Saudi dan Afghanistan, bahkan sangat kagum dengan keharmonisan Indonesia. Bayangkan dengan 714 suku, 17 ribu pulau di 34 provinsi dan masih terbagi lagi  516 Kabupaten/Kota, rakyat bisa bersatu. Pancasila yang telah menyatukan keberagaman rakyat Indonesia dalam ikatan semboyan Bhinneka Tunggal Ika patut dibanggakan. Coba bandingkan dengan negara-negara Timur-Tengah, sebagai pusat peradaban Islam mereka gagal melestarikan warisan yang sangat mulia dan suci tersebut, terutama dalam mengatur kerukunan umat. Pergolakan politik senantiasa menjadi faktor utama munculnya konflik diantara mereka.

Selain mengobarkan motivasi kepada peserta, KH. Said juga menyampaikan bahwa kemajuan peradaban lahir bukan hanya dari pendidikan tapi dari karakter pribadi yang memiliki integritas tinggi. Penanaman integritas tinggi salah satunya ada di pondok pesantren. Pesantren memiliki 4 keunggulan dalam metode pengajaran yang terkadang tidak dimiliki pihak luar, diantaranya;

a) Ta’lim (Pengajaran yang bersifat penyampaian pengetahuan); Semangat mengasah ilmu di pondok pesantren sangat luar biasa tidak sekedar ingin memperoleh gelar. Karakter cinta ilmu dan semangat berilmu sangat ditanamkan. Hal ini berbeda dengan bangku sekolah formal yang cenderung lebih sedikit dalam pendalaman keilmuan, kurang lengkap dan tuntas. Salah satu faktornya mungkin keterbatasan waktu dalam aturan kurikulum yang harus dipenuhi. Padahal salah satu syarat mencari ilmu menurut al-Zarnuji dalam kitabnya “Alala” adalah lapang dada, sabar dan waktu yang lama sebagaimana dilakukan di pondok-pesantren.

b) Tadris (Pengajaran yang bersifat pelatihan/pengamalan ilmu); Di dalam pesantren, para santri biasa diajarkan kegiatan praktikum keagamaan seperti praktek pengurusan jenazah, praktek menjadi imam, berorganisasi dan bahkan entrepeneurship melalui koperasi yang dikelola oleh mereka. Secara tidak langsung, mereka telah melakukan learning by doing ilmu-ilmu manajemen, baik berhubungan dengan dunia pendidikan, ekonomi maupun politik.

c) Ta’dib (Pembinaan dan penyempurnaan akhlak/kedisiplinan); Penggemblengan atas akhlak dan adab tercermin dalam kehidupan sehari-hari di pesantren, bagaimana memupuk sikap sopan santun antara santri dengan kyai atau sebaliknya sekaligus santri dengan santri. Inilah gambaran kecil menghadapi hidup bersosial di masyarakat.

d) Tarbiyah; dari kata rabba-yurabbi-tarbiyatan berarti mengasuh, mendidik dan memelihara. Elemen paling puncak dari metode pendidikan adalah tarbiyah. Kyai berkedudukan sebagai murobbi yang bertanggungjawab meningkatkan kualitas, membangun kemanusiaan sekaligus karakter dan meningkatkan kesempurnaan indera para santri.  Fungsi pendidik sangat berat karena stressing dari tarbiyah terbesar bukan pada ilmu bukan pula pengamalannya, akan tetapi memompa kesadaran/sensitifitas beragama.

NU merupakan wadah tarbiyah di masyarakat dan merupakan kepanjangan tangan dari pesantren. Sehingga diharapkan para alumnus pesantren bisa ikut andil memperjuangkan agama salah satunya lewat NU.

Namun tantangan terbesar bagi pondok pesantren saat ini adalah perlunya mengaktualisasikan atau mengkontekstualisasikan keilmuan klasik dengan fakta dan bahasa kontemporer yang sesuai dengan Era Now, istilahnya sekarang. Fungsinya tidak lain supaya lebih mudah mengarahkan dan membekali para santri bisa memiliki visi dan misi ke depan di masyarakat.

Terakhir dalam kuliahnya, Ketua PBNU ini menekankan peserta agar tidak mudah termakan berita hoax. Perlu adanya tabayyun pada setiap berita yang kita dapatkan. Seandainya ada pemberitaan mengenai seseorang, maka cari tahu kebenarannya terlebih dahulu mulai subtansi/pribadinya, kualitas, kuantitas, kapasitas, relasi/hubungannya dengan orang lain, lokasi dan waktu kejadian, posisi/derajatnya baru teliti aksi dan reaksinya. Hal ini agar kita terlatih berpikir Obyektif terhadap segala sesuatu, itulah hakikat Mukaddimah Ilmu Filsafat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here