Home IAI-Tribakti Menguatkan NKRI Program Mengaji Indonesia diselenggarakan di Perguruan Tinggi Islam

Menguatkan NKRI Program Mengaji Indonesia diselenggarakan di Perguruan Tinggi Islam

755
0
SHARE

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Senin, 05 Maret 2018 di halaman gedung Twin Towers menyelenggarakan Mengaji (mengasah Jati Diri) Indonesia. Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama UIN Sunan Ampel Surabaya dan Kementerian Agama RI dalam rangka menguatkan NKRI yang agamis dan pancasilais.

Peserta yang terlibat segenap civitas akademika UIN Sunan Ampel Surabaya, Rektor PTKIN sejawa Timur dan perwakilan dari PTKIS Kopertais Wilayah IV Surabaya termasuk dari IAI-Tribakti Lirboyo Kediri yang diwakili Dr. A. Jauhar Fuad, Yasin Nur Falah, M. Arif Khoiruddin dan Ahmad Fauzi. Tak ketinggalan, kegiatan berkonsep outdoor tersebut juga dihadiri ribuan masyarakat Kota Surabaya dan sekitarnya.

Isu kebangsaan menjadi diskusi serius dan penting di tengah maraknya paham radikalisme. Sebab, apapun alasannya, radikalisme jelas tidak sesuai dengan adat Ketimuran yang sarat akan nilai toleransi dan penghargaan atas keberagaman. Lebih parahnya, ketika radikalisme menjadikan isu sara dan agama sebagai pemantik. “Kegiatan ini sebagai bentuk kebersamaan kita dalam merawat Ke-Indonesiaan,” ujar Prof. Dr. H. Abd. A’la, M.Ag., Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya dalam pidato pembuka kegiatan ‘Mengaji Indonesia’

Mengaji Indonesia kali ini mengangkat tema, ‘Islam Indonesia: Penebar Kedamaian’. Hadir sebagai narasumber KH. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus sebagai ulama juga budayawan, dan presenter senior Rosianna Silalahi, yang juga Direktur Pemberitaan Kompas TV.

Prof. A’la dalam kesempatan tersebut menyampaikan, Mengaji Indonesia (MI) merupakan kegiatan unggulan Kemenag RI yang terinspirasi dari sukses penyelenggaran kegiatan UINSA Mengaji Indonesia (UMI) pada Agustus 2017 lalu. Hal ini mengingat, kegiatan UMI sejalan dengan program Kemenag dalam rangka menggaungkan nilai-nilai Ke-Islaman yang damai dan moderat.

“Kata ‘Mengaji’ bisa dimaknai secara harfiah sebagai memahami, mengenal esensi, hakikat. Tapi mengaji juga menjadi Akronim dari Mengasah Jati Diri. Sehingga Kita ingin melalui forum ini semakin memiliki keteguhan pemahaman bagaimana menjadi Indonesia,” tutur Menag RI dalam statemen pembuka.

Menag RI yang dalam kesempatan tersebut secara khusus menjadi host kegiatan diskusi berharap, dapat lebih banyak mendengar dan menyerap aspirasi dari masyarakat. Dimulai dengan pertanyaan mengenai Indonesia pada Gus Mus, Menag RI mengenang bagaimana dulu di bangku sekolah diajarkan tentang Indonesia yang ramah, sopan santun, gotong royong, dan senang berbagi dengan yang lain. “Apakah hal positif yang sebagaimana dulu saya diajarkan itu masih bisa kita rasakan? Apa sebenarnya yang perlu kita jaga, yang dulu diwariskan para pendahulu kita?” ujar Menag RI mengawali pertanyaan.

Gus Mus, mengawali penyampaiannya menyatakan, salah satu nilai penting Indonesia adalah kelemahlembutan. Prinsip inilah yang menurut Gus Mus harus dijaga dan dirawat dalam Ke-Bhinnekaan Indonesia. Lebih lanjut disampaikan Gus Mus, bahwa sejatinya sumber malapetaka kehidupan adalah kesenangan yang berlebihan terhadap hal duniawi. “Kalau kita tidak bisa zuhud seperti pendahulu kita, setidaknya kita belajar hidup sederhana,” ujar Gus Mus memberi nasehat.

Beralih pada Rosianna, Menag RI meminta pandangan terkait apa yang dirasakannya sebagai Pemeluk Agama Katolik di tengah negara yang mayoritas Muslim. Menanggapi pertanyaan Menag RI, Rosianna mengawali dengan pengenalan mengenai Media Kompas. Dijelakannya, dalam konstelasi politik saat ini, baik Kompas TV, Koran Kompas, maupun Kompas.com menyatakan diri dalam slogan Rumah Pilkada. “Kenapa rumah? Karena tidak ada satupun orang yang ingin membakar rumahnya sendiri. Kita boleh berbeda, kita boleh berkompetisi, tapi kita tidak akan ingin membakar rumah kita sendiri,” tegas Rosianna.

Sementara itu, menjawab pertanyaan Menag RI, Rosianna dengan bangga mengatakan, bahwa selama hidupnya, ia selalu merasa dilindungi oleh Umat Muslim. Rosi juga menceritakan bagaimana keluarganya sekalipun berbeda keyakinan, tidak pernah merasa risih dengan simbol-simbol agama lain. “Saya ingat, sewaktu saya kecil, selalu ada siaran adzan maghrib di TV. Ibu selalu menyuruh saya, besarkan volumenya! Beliau bilang, kita memang tidak tahu artinya. Tapi saya yakin ini adalah alunan kemuliaan untuk Tuhan,” ujar Rosianna disambut tepuk tangan meriah para hadirin.

Disamping kedua narasumber, Prof. A’la pun, tak luput dari bidikan Menag RI, sang Host. Kepada Prof. A’la, Menag RI bertanya tentang apa sebenarnya yang menjadi modal utama yang harus dijaga dalam kehidupan bernegara. Prof. A’la pun menjelaskan, sebagaimana dikutip dari Gus Mus, bahwa agama sebagai sumber moral harus dikembangkan. Bangsa Indonesia, menurut Prof. A’la, adalah orang-orang dengan kecenderungan memiliki keterikatan kuat dengan agama.

“Lantas kenapa saat ini, orang cenderung berkonflik justru karena agama?” sela Menag RI. Menjawab pertanyaan tersebut, Prof. A’la pun menyampaikan, bahwa sejatinya agama bukanlah pemicu konflik. Melainkan hanya pemantik, alat untuk menegaskan perbedaan yang dipertentangkan.

“Kenapa harus agama yang jadi alat?” sela Menag RI lagi, yang kali ini ditujukan pada Gus Mus. Gus Mus pun menjawab singkat dengan gaya jenaka khas. “Karena mereka tidak Ngaji,” seloroh Gus Mus. Mengaji yang disampaikan Gus Mus disini, tidak hanya membaca kitab suci, melainkan juga memahami ilmu agama.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 19.00-23.00 WIB tersebut tidak hanya diisi diskusi dan paparan narasumber. Civitas akademika serta masyarakat yang hadir pun mendapat kesempatan berdialog dengan para tokoh nasional. Diselingi dengan penampilan seni dari Komunitas Jaguar Nusantara, The Nazimiyya Whirling & Shalawat (Tari Sufi) serta tim angklung kolintang, serta Paduan Suara Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya, kegiatan ini menjadi perhelatan akbar yang melibatkan langsung beberapa komponen penting bangsa. Yakni, Pemerintah, Dunia Pendidikan, tokoh agama, tokoh media, dan Masyarakat. 

Sumber: UINSA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here