Home Perbankan Syariah Training of Trainers “Perbankan Syariah” FEMFEST UNIDA Gontor

Training of Trainers “Perbankan Syariah” FEMFEST UNIDA Gontor

451
0
SHARE

Pada tanggal 18 – 21 Februari 2018, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Ponorogo mengadakan Festival tahunan. Kegiatan FEM FEST 2018 ini bertajuk “Membangkitkan Islamic Sustainable Economic Development melalui Sinergisitas Lembaga Keuangan Syariah & Kewirausahaan Islami”. FEM FEST ini dibagi menjadi beberapa event, yaitu Training of Trainers, E-Days (Entrepreneur Days), Tabligh Akbar, Islamic Economics Olympiad dan Seminar Nasional.

Adapun 3 orang perwakilan dosen Prodi Perbankan Syariah Tribakti yaitu Jamaluddin, Ahmad fauzi dan Ana fadhilah, secara khusus hadir dalam ToT (Training of Trainers) perbankan syariah yang diselenggarakan pada tanggal 19-20 Februari 2018 di gedung CIOS (Center For Islamic And Occidental Studies) UNIDA. Workshop ini diisi langsung oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) pusat dari berbagai divisi.

Acara ToT hari pertama dibuka dengan pre test bagi peserta, dengan tujuan mengetahui seberapa luas pengetahuan mereka dalam bidang perbankan syariah. Selanjutnya, trainer pertama, Setiawan Budi Utomo sebagai Deputi Direktur PEE (Pengembangan Produk dan Edukasi) Departemen Perbankan Syariah OJK dalam sambutannya mengulas ada 7 isu strategis kebijakan pengembangan perbankan dan keuangan syariah di Indonesia (2015-2019) yang menjadi Pekerjaan rumah bagi para pelaku strategis sistem perbankan syariah, baik praktisi maupun akademisi. Diantaranya adalah:

  1. Visi belum selaras dan kurang koordinasi dengan otoritas pengembang perbankan syariah.
  2. Modal belum memadai, skala industri & individual bank masih kecil serta efisiensi rendah.
  3. Biaya dana mahal berdampak pada keterbatasan segmen pembiayaan.
  4. Produk tidak bervariatif dan pelayanan belum sesuai ekspektasi masyarakat.
  5. Kuantitas & kualitas SDM belum memadai dan Teknologi Sistem Informasi belum mendukung pengembangan produk dan layanan.
  6. Pemahaman & kesadaran masyarakat masih rendah.
  7. Pengaturan & pengawasan masih belum optimal.

Survey Nasional Literasi & Inklusi Keuangan Syariah 2016 membuktikan bahwa dilihat secara sektoral, tingkat literasi dan inklusi perbankan syariah sebesar 6,63 % dan 9,61 %, menunjukkan bahwa masyarakat sudah mulai menggunakan perbankan dan keuangan syariah namun belum banyak yang paham mengenai produk dan layanannya. Oleh karena itu, OJK terus mengkampanyekan Gerakan ACKS (Aku Cinta Keuangan Syariah) melalui seminar, training dan event-event lainnya. Program tersebut didukung penuh oleh Presiden Jokowi dengan tujuan meningkatkan pemahaman dan penggunaan produk serta layanan keuangan syariah di masyarakat.

Trainer Kedua, Rudi Widodo, Divisi PEE OJK mengajarkan trik mudah menganalisis produk atau jasa layanan lembaga keuangan bank dan non-bank, apakah sesuai atau tidaknya dengan Hukum Islam, dengan istilah SAOS Hukum (Subjek, Akad, Objek dan Staman/harga). Sebagai contoh perbandingan akad murabahah (jual beli) ala bank syariah versus perjanjian kredit /leasing ala bank konvensional. Jika kita misalkan nasabah membutuhkan motor dan mengajukan dana ke Bank Syariah dengan Produk Penyaluran Dana Murabahah, maka S atau Subjek hukumnya meliputi; nasabah sebagai pembeli motor dan bank sebagai penjualnya, A Akadnya adalah murabahah (jual beli), O Objek hukumnya yaitu motor sedangkan S atau Staman yaitu harga motor (harga beli bank dari dealer ditambah keuntungan yang diambil bank). Perlu diketahui, Bank Syariah meskipun tidak langsung membelinya kepada dealer tetapi biasanya memerikan surat perwakilan (akad wakalah) kepada nasabah untuk membeli motor langsung kepada pedagang/dealer. Setelah itu, posisi dealer (sebagai pedagang) selanjutnya ada pada Bank Syariah.

Bandingkan ketika nasabah tersebut mengajukan kepada Bank Konvensional, maka yang terjadi adalah S Subjek hukumnya yaitu nasabah sebagai debitur dan bank sebagai kreditur, A Akadnya adalah utang piutang, O Objeknya yaitu Uang dan S Stamannya adalah Rate atau suku bunga.  Dari sini jelas sekali perbedaan keduanya, pada hakikatnya objek yang dikomoditikan dalam Bank Konvensional bukan barang melainkan uang, dengan akad utang piutang. Sedangkan setiap utang piutang yang mendatangkan kemanfaatan (tambahan) maka itulah riba. Dalam contoh transaksi diatas, impact terbesar dalam hidup manusia secara keimanan adalah keberkahan dalam sah tidaknya akad secara syar’i. Dan Masih banyak sekali contoh-contoh produk yang perlu dianalisis dan untuk selanjutnya dikaji oleh akademisi.

Dalam Islam, apapun yang berfungsi sebagai uang, maka fungsinya hanya sebagai medium of exchange, alat tukar. Ia bukanlah barang komoditas yang bisa dijualbelikan maupun disewakan baik on the spot atau tidak. Sebagaimana perkataan Imam Ghazali “uang ibarat cermin” ia tidak memiliki warna namun mencerminkan semua warna. Maknanya adalah uang tidak berguna secara subtansinya, melainkan diperlukan sebagai perantara untuk membeli barang yang lain sehingga kebutuhan manusia terpenuhi.

Pengaruhnya secara ekonomi, dialurkan ketika uang diperlakukan sebagai komoditas oleh sistem kapitalis, maka berkembanglah pasar uang yang diikuti dengan segala derivatifnya. Transaksi ini tidak dilandari transaksi riil sepenuhnya. Efeknya secara makro akan timbul bublle economy (perekonomian gelembung) dalam pasar moneter, yaitu suatu kondisi dimana transaksi keuangan terlihat besar sekali namun realitanya kosong tidak ada isinya, karena tidak dilandasi transaksi riil. Padahal perekonomian yang ideal adalah ketika velocity (tingkat perputaran) uang yang beredar seimbang dengan jumlah barang atau jasa yang diperdagangkan. Maka dari itu, inilah saatnya umat muslim memperjuangkan sistem ekonomi secara islami. Hal ini bisa dimulai dengan hijrah menggunakan Bank Syariah dan sejenisnya.

Salam ACKS Aku Cinta Keuangan Syariah!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here