SHARE

Banyaknya aliran keras yang mengharamkan amaliyah orang-orang NU seperti tahlil, ziarah kubur diprediksi membawa pengaruh bagi pemeluk umat Islam di Suriname, Amerika Selatan.

KH Ir Soedirman Moentari, yang juga Dosen Wageningen University Netherland memperkirakan 10 tahun ke depan pemeluk Islam di Suriname tinggal 20 persen. 

Penjelasan tersebut disampaikan Soedirman yang nenek moyangnya berasal dari Pare Kabupaten Kediri ini pada acara saresehan dengan tema ‘Nuansa Dakwah Islam di Benua Eropa’ yang digelar Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Tribakti Kota Kediri, Selasa (7/4).

“Pemeluk Islam di Suriname dulu hampir 50 persen, sekarang tinggal 30 persen dan saya ramalkan pada 10 tahun ke depan hanya akan tinggal 20 persen. Penyebabnya adalah banyaknya mahasiswa yang belajar di luar negeri yang kemudian dengan memberi ajaran keras yang mengharamkan semua amaliyah yang sudah dipegang secara turun-temurun,” kata KH Soedirman yang menyampaikan paparannya dengan menggunakan Bahasa Jawa dengan dialek khas Bahasa Jawa Suriname.

Karena semua amaliah diharamkan, ditambahkan Soedirman akhirnya banyak yang memilih pindah agama. “Banyak juga yang pindah ke kejawen mereka menganggap kejawen sebagai agama. Padahal kejawen bukanlah agama. Ini dikarenakan kerasnya sistem dakwah yang dilakukan oleh para penyebar Islam di Suriname,” paparnya di hadapan ratusan mahasiswa di Kampus yang berdiri sejak tahun 1966 ini.

Seperti diketahui Suriname (Surinam), dulu bernama Guyana Belanda atau Guiana Belanda adalah sebuah negara di Amerika Selatan dan merupakan bekas jajahan Belanda. Negara ini berbatasan dengan Guyana Prancis di timur dan Guyana di barat. Di selatan berbatasan dengan Brasil dan di utara dengan Samudra Atlantik.

Di Suriname tinggal sekitar 75.000 orang Jawa dan dibawa ke sana dari Hindia Belanda antara tahun 1890-1939. Suriname merupakan salah satu anggota Organisasi Konferensi Islam